Perfectionist Complex -Kompleks Perfeksionis. Seseorang dengan luka batin di masa lalu.

Halo sobat Plukerz. Semoga kita semua dalam keadaan sehat jiwa dan raga ya. Amin. 


Sekarang kuingin berbagi mengenai perfeksionis. Sobat, apa yah yang dimaksud dengan perfeksionis? Lalu kenapa bisa terjadi? Apakah  hal ini menghasilkan sesuatu yang baik atau tidak? 

Nah kita baca bersama ya, sobat. 


Sang kompleks perfeksionis. 

Seseorang dengan perfectionist complex cenderung (karena hampir semua--mungkin sebagian kecil yang tidak ya) memiliki perasaan batin yang kerap mengatakan :

"Saya tidak akan pernah berhasil" 

"Saya tidak pernah menghasilkan hal yang indah dan baik untuk karya saya" 

"Saya tidak bisa menyenangkan hati saya sendiri, orang lain, pimpinan, atau orangtua" 

"Pekerjaan yang saya hasilkan tidak pernah rapi" 


Kemudian seseorang ini juga sebenarnya cukup tertekan dengan beberapa hal yang dipikirkannya yakni ketika muncul kata harus (seharusnya) & mestinya  (semestinya) di dalam hatinya, sehingga menimbulkan perasaan cepat bersalah. 

Contoh:

"Saya harus dapat melakukan hal ini"

"Saya mestinya dapat melakukan hal itu." 

"Saya harus berjuang lebih baik lagi"

"Saya seharusnya bisa menyelesaikan tepat waktu"

"Saya semestinya bisa lebih membuat suasana lebih interaktif"


Semua hal tidak terlihat dan dirasa berhasil olehnya. Malah dia terus "mendaki" namun tidak pernah sampai. Apa yang dirasa jika terjadi demikian? Benar! Kekecewaan. Bahkan bisa sakit hati, depresi, stress, ataupun kondisi psikis lainnya yang harus diamati lagi dengan lebih dalam. 


Hal lainnya yang terjadi ialah seolah-olah di dalam dirinya terdapat "sosok pengendali" yang mencengkeramnya.  Sehingga sang pribadi perfeksionis tidak (sulit) untuk rileks, tidak bisa sekedar santai. Selalu terlihat bekerja terlalu keras. Sebenarnya, banyak orang menyukai sang perfeksionis ini dan rela menolong apa saja karena hasil yang sempurna. Namun sangat disayangkan biasanya pribadi perfeksionis ini tidak mengizinkan orang lain untuk terlibat membantu dan menolong. Sampai suatu saat, dia bisa mengalami keruntuhan mental. Lalu psikosomatis. Lalu sakit fisik. 


Apa penyebabnya? 

Masa lalu apa sebenarnya yang dialami sang perfeksionis ini? Mari lihat contoh-contoh berikut ini, semoga kita tidak mengulangi bagian yang buruk saat menjadi orangtua nanti ya, sobat. 

Kecenderungannya, saat masih anak-anak, dia ingin sekali menyenangkan orangtuanya. Tetapi sangat disayangkan, saat dia melakukan hal yang baik dan benar, orangtua tidak akan melihatnya sebagai sesuatu hal yang perlu diapresiasi. Justru sebaliknya, saat ada kesalahan kecil, langsung diungkapkan, dan disorot. Tanpa ada pujian sekalipun sang anak sudah bertindak benar. Malah kembali dilihat mana kesalahannya. Saat memperoleh nilai yang sudah cukup baik di sekolah pun begitu. Orangtua tetap merasa nilai sang anak itu jelek dan kurang. 

Oke, sekarang contoh ya sobat. 

Ucapan ibu kepada sang anak:

"Nak, kamu mencuci dengan cara yang salah, begini seharusnya" 

Sang anak melihat dan akhirnya berhasil meniru apa yang diajarkan oleh ibunya. Tapi apa yang terjadi? 

"Nak, kamu salah meletakkan sabun. Seharusnya disini. Bukan disana, karena bisa licin nanti lantainya" 

Lalu si anak menurut. Dia memperbaikinya.

"Nak, air terlalu banyak, pemborosan. Seharusnya kamu bisa memperkirakan" 

Begitu seterusnya. Ibu tidak pernah melihat ada sesuatu yang sudah benar yang dilakukan si anak. Semua salah. Lama kelamaan akhirnya si anak bertumbuh menjadi anak yang memiliki perasaan berusaha sekeras apapun dia tidak akan pernah menyenangkan ibu. Begitu juga dengan nilai di sekolah. Contoh respon ayah: 

"Nak, kenapa nilaimu B dan C? Bukankah kalau kamu berusaha, kamu bisa memperoleh B untuk semua mata pelajaran ini?"

Lalu si anak berusaha lebih keras lagi, belajar lebih keras lagi. Sampai akhirnya semua nilai raportnya B.

Respon ayah:

"Wah. Sebenarnya kamu bisa dapat A"

Kemudian dia berusaha lebih keras lagi. Belajar terus. Voila! Hasilnya sangat menggembirakan. Dia berhasil dapat A untuk semua mata pelajaran!

Respon yang didapat:

"Wajar nak. Guru-gurumu baik. Saya kenal mereka. Mereka selalu memberi nilai A."


Saat anak menjadi dewasa perfeksionis. 

Ketika sang anak sudah tumbuh dewasa dan menjadi seorang pekerja kantoran, dia selalu memiliki perasaan bahwa para pemimpinnya tidak dapat disenangkan. Dia tidak pernah dapat memuaskan pemimpinnya, apapun usaha yang dilakukannya. Sekalipun hasilnya sudah baik. Akhirnya dia tumbang, terhimpit pemikiran-pemikiran sendiri akan penerimaan dan pembuktian diri.

Betapa kuatnya kompleks perfeksionis ini mencengkeram hidup seseorang. Betapa kokoh kompleks itu terbangun dalam diri seseorang sedari dia kecil. 


Gejala-gejala perfeksionisme

1. Tirani keharusan. Seperti dijelaskan diawal, bahwa ciri utama perfeksionisme adalah sebuah perasaan seolah tidak pernah melakukan sesuatu dengan cukup baik atau menjadi seseorang yang cukup baik, dan perasaan ini bersifat konstan dan menyeluruh. Setiap hal apapun itu yang dikerjakan selalu ada unsur: "Saya tidak melakukannya dengan cukup baik". Kata kunci: seharusnya dapat, seharusnya akan, semestinya, dan lain sebagainya. 


2. Depresasi diri. Kalau seorang perfeksionis selalu merasa tidak pernah cukup baik, maka dia akan terus menerus merasa harkat dirinya rendah. Penghargaan untuk diri sendiri rendah. 


3. Kekhawatiran. Keharusan dan menyedihkan diri menghasilkan hati nurani yang terlalu sensitive dijawab payung besar rasa bersalah, kekhawatiran dan penghakiman diri. Kekhawatiran akan ini itu bahkan hal-hal terkecil sudah melekat karena kengerian dan ketakutan terhadap tuduhan-tuduhan dari diri sendiri. 


4. Legalisme. Pribadi perfeksionis memiliki nurani yang rapuh, penghargaan diri rendah, dan rasa bersalah yang tertanam dalam dirinya sangatlah peka terhadap apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya . Hem, yah bisa juga legalisme inilah pemicu dari sebuah asumsi yang muncul dalam pemikiran sang perfeksionis dalam kerapuhannya.


5. Kemarahan. Dalam lubuk hati yang terdalam, sesungguhnya sang perfeksionis menyimpan kemarahan terus menerus yang bertumbuh. Kemungkinan besar tidak disadari. Tapi suatu saat akan meledak. Dia marah terhadap keharusan, dan juga terhadap diri sendiri. Kemarahan yang berasal dari kebencian. 


6. Penyangkalan. Kecenderungan sang perfeksionis dalam menghadapi kemarahan ialah menghindarinya serta menyangkalinya. Segala sesuatu diupayakan untuk menyangkali kemarahan tersebut. Hingga suatu saat perubahan hati terjadi sedemikian besar dan begitu mengerikan sehingga seseorang itu bisa terlihat seolah dua pribadi yang berbeda pada saat yang sama. Wah! Ngeri ya. Tapi juga kasihan. Lalu tidak hanya itu, seorang pribadi perfeksionis ini juga melarikan diri dari kenyataan sebagai penyangkalan terhadap amarahnya. Jika sudah demikian dia akan sulit percaya, bahkan mempercayai hatinya sendiri. Bisa tiba-tiba menghilang gitu dari peredarannya. 


Positif dan negatif sang perfeksionis dengan luka masa lalunya. 

Kecenderungan sifat perfeksionis (mungkin sudah banyak sobat Plukerz tahu ya), yaitu biasanya dikaitkan dengan gangguan kesehatan mental loh sobat. Contoh nya orang itu memiliki kecemasan berlebih (karena kuatir akan banyak hal), gangguan makan (bisa ngga laper-laper dalam jaangka waktu lama), dan keinginan untuk menyakiti diri sendiri (pengaruh depresasi rendah). 

Namun tidak jarang juga loh sang perfeksionis ini memiliki banyak pengagum saat usia dewasa. Karena apa? Iya benar. Karena semua hasil pekerjaan yang dilakukannya akan terlihat sempurna dimata orang lain. Hanya sang perfeksionis itu saja yang merasa selalu ada yang kurang. Kelebihan lainnya ialah sang perfeksionis juga bisa dikatakan sebagai orang yang cermat dan teliti sehingga nyaris segala sesuatu tidak ada terlihat kurangnya. Dia juga menetapkan standard yang tinggi loh Plukerz untuk dirinya sendiri. Alhasil itulah yang dimintanya kepada orang lain juga. Sayangnya, kalau orang lain tersebut sulit mencapai standardnya sang perfeksionis, maka tidak jarang terjadi keributan dan perpecahan. Hal lainnya, sang perfeksionis ini sangat teratur, sedikit saja ada kesalahan dan ketidak-teraturan, dia bisa tahu. Hal ini baik untuk disiplin agar sikap-sikap teratur dan taat itu tercipta. Tetapi  parahnya, dia bisa stress akibat ketidak-teraturan tersebut. Bisa kebawa pikiran, ngga bisa tidur, timbullah berbagai macam penyakit lainnya. Yakan sobat Plukerz?


Bagaimana menolong sang perfeksionis. 

Memang susah-susah gampang menghadapi situasi demikian. Karena kuatnya pengaruh masa lalu. Kalau kita sebagai orangtua, melihat gejala-gejala ini pada anak-anak kita, maka tolonglah sejak dini dengan pembiasaan-pembiasaan yang seimbang. Contoh, berikan pujian sesuai waktu dan tempatnya, biarkan anak belajar dari kesalahannya dengan tetap didampingi sesuai usia perkembangannya. Ajarkan anak untuk bisa relaks. Ohya, jangan mengulangi pola asuh yang tidak baik ya Plukerz.

Lalu kalau usia dewasa bagaimana? Kita bisa sarankan untuk tidak mengambil banyak kegiatan dalam satu waktu. Usahakanlah bahwa dia bisa relaks dalam menjalani dan mengerjakan tugas-tugasnya. Berikan jeda untuk istirahat bagi tubuh. Ajaklah memahami kalau tidak semua orang bisa memiliki standard yang sama seperti dia. Izinkan dia melihat dan mengingat kepada hidupnya di masa lalu untuk bisa memaafkan setiap orang yang tidak merasa puas dengannya, atau berusaha dia senangkan. Memang tidaklah mudah, tetapi ayo berjuang. Jika perlu marah, marahlah, jika perlu menangis, menangislah. Sampaikan bahwa perlu mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Ingatkan untuk tetap mengerjakan segala sesuatu semaksimal mungkin, dan berikan apresiasi secukupnya (karena kalau berlebihan, bisa jatuh kepada ekstrim sombong). Ingatkan juga ada hal-hal yang bisa terjadi tanpa bisa diprediksi. Jadi, ajak untuk relaks dan fleksibel.  

Kalau sobat Plukerz sedang dalam masa-masa berkutat dengan situasi perfeksionis ini  (saya juga pernah, kamu tidak sendiri ^^) tidak mengapa. Jangan menyerah untuk bisa belajar menempatkan diri. Karena dibalik hal yang menyedihkan (Luka batin) ada bagian positif / hikmah yang bisa kita telaah & ambil. Dibalik kejelekkan perfeksionis, tetap ada kebaikkannya loh, sobat!


Plukerz, meskipun lelah dalam menolong sang perfeksionis, usahakanlah agar tetap menolong ya sobat Plukerz. Ingatlah kalau sang perfeksionis adalah mereka juga yang memiliki luka batin di masa lalu. Mereka sangat terluka. Saya, kamu, kita semua pernah terluka. Sehingga  perlu untuk mendengar setiap cerita kisah kita satu sama lain.


Oke, itu sedikit gambaran tentang  kompleks perfeksionis. Kalau sobat Plukerz mau menambahkan terkait perfeksionis, atau ada pengalaman serupa boleh berbagi di kolom komentar ya :)

Senang  dapat berdiskusi dan membantu sobat :) 


Ohya, terkait luka batin, sila berkunjung ke tulisan saya yang lain. Silahkan klik disini ya .




Iikkeee 

Special for mbak Kusuma yang katanya menanti artikel receh ini ;p
Ide tulisan : healing for damaged emotion.  
Gambar : googling, keyword catharsis emotion 

Cerita ini bisa dibaca di : Perfectionist Complex -Kompleks Perfeksionis. Seseorang dengan luka batin di masa lalu.