Jika Menulis Hanya Mengejar Uang Atau Tenar, Dalam Sekejap Pasti Tumbang

"Duh, ngeselin nggak sih? Udah capek-capek nulis nggak ada yang baca!" keluh seseorang soal tulisan di akun Wattpad-nya.

Sementara yang lain ribut ingin dapat follower atau viewer besar. Dengan follower yang sekarang rasanya hambar. Niatan nulis hilang karena viewer-nya cuma sedikit, nggak bisa jutaan kaya lainnya. 


Saya tidak terkejut mengetahui hal itu. Begitulah gambaran saya di masa silam, awal-awal belajar nge-blog. Saya ingin dikenal, diikuti banyak orang, banyak yang memasang link blog saya di web-nya. Maka saya berusaha keras mendapatkannya, sayang hasilnya tak sepadan. Meski sempat ogah-ogahan, nyatanya saya tetap menulis di blog hingga sekarang, setelah sepuluh tahun terlewat.

Di awal terjun sebagai penulis cerita (pendek atau novel), saya seringkali kecewa karena kekalahan. Biasa, terserang penyakit orang yang baru belajar yaitu kepedean. Hasilnya saya jadi malas nulis. Buat apa, paling kalah? Padahal nulis itu butuh biaya dan waktu banyak juga.

 

Lha masa butuh biaya? Biaya apa? Eits, biaya beli pulsa. Darimana kita bisa browsing untuk riset tulisan yang kita perlukan jika tanpa pulsa? Itu baru pulsa. Kalau harus riset ke tempat asli, meski tempatnya berjarak 30 km dari rumah, tetap butuh biaya untuk bensin dan cemilan 'kan?

Waktu yang diperlukan pun tidak sedikit. Saya bukan orang yang sekali duduk, bisa langsung menghasilkan tulisan ribuan kata. Kadang satu kalimat pembuka saja lama nian karena tidak juga menemukan.

Belum lagi dibenturkan dengan kenyataan bahwa karya kita ditolak terus-terusan. Syukur jika dapat surat pemberitahuan, kalau tidak berarti kitalah yang berinisiatif menanyakan. Bila hal ini sudah menyedihkan bagaimana rasanya ketika royaltinya kecil, cuma cukup buat jajan bakso sepuluh mangkok misalnya? Nggak bisa mencapai jutaan seperti Tere Liye. Waduuh, laiknya balon semangat pun kempis seketika.


Nulis di Plukme pun tak jauh beda. Jika yang dikejar follower dan nominal uangnya, nggak bisa. Nulis di platform ini tak bisa membuatmu jadi kaya. Tambah ilmu atau tambah kawan mungkin bisa. Finansial? Lebih baik jangan berharap terlampau besar.

Maka, urungkan niat untuk jadikan menulis sebagai sarana mendulang ketenaran atau uang. Kamu pasti tumbang. Menulis sajalah dengan riang. Perkara uang dan terkenal biarlah itu urusan Tuhan. Dia lebih paham apa yang baik untuk kita. Ok?


Salam.


Pic : rawpixel on Pexels

Cerita ini bisa dibaca di : Jika Menulis Hanya Mengejar Uang Atau Tenar, Dalam Sekejap Pasti Tumbang