[CERPEN] PERAHU RINDU

"buat apa sich kamu mempertahankan rumah tangga dengan Riki? Sinta sadar dong kamu,dia itu sudah selingkuh dibelakang kamu"

"sudah lah kak jangan ungkit lagi masalah skandal mas Riki, aku sudah jenuh dengarnya, aku masih cinta dan sayang sama mas Riki kak, lagipula mas Riki masih bertanggungjawab menafkahi lahir dan batin"

"Sinta, kamu jadi cewek jangan terlalu bodoh dong, harusnya kamu marah, ini malah diam dan cuek aja"

"bukannya begitu kak aku kasian sama anak-anak"

"kata kakak juga mendingan kamu cerai sama si Riki, kamu tuch sarjana,cantik dan cerdas pasti banyak koq laki-laki lain diluar sana yang tertarik sama kamu, jangan dibutakan sama cinta lah apalagi cintanya menyakitkan kamu, kakak siap bantu kamu untuk mengurus proses perceraian"

"kak, yang menjalankan rumah tangga kan aku, jadi kakak jangan ikut campur masalah rumah tangga aku dech"

"setidaknya dengan bercerai dengan Riki pasti kamu dan anak-anak bisa hidup lebih tenang daripada kamu ngebatin, yasudah kakak pulang dulu kalau ada apa-apa hubungi kakak"

Sinta menuju danau yang letaknya 200 meter dari rumah kontrakannya, dia pun menaiki perahu yang ada di danau tersebut. Sudah sebulan Riki menghilang entah kemana, namun yang anehnya seminggu sekali Riki mentransfer uang untuk istri dan kedua anaknya. Tapi dia takut untuk menemui langsung istrinya setelah dia terciduk berselingkuh dengan wanita lain yang  katanya janda kaya.

Dilihatnya air didalam danau sambil menaiki perahu, dipikiran Sinta hanya ada bayangan suaminya. Betapa lembut hatinya walaupun sudah dikhianati. Sudah sebulan ia menanti kedatangan suaminya kembali.  handphone Sinta pun berdering.

"halo bunda ini ayah, gimana kabar bunda sama anak-anak?"

"mas, mas Riki kapan pulang aku kangen kamu mas, anak-anak juga sama"

"nanti ya bun mas mu ini pasti pulang, tapi jujur aku malu sama kamu dan keluarga kamu. Tapi jujur mas sangat sayang sama kamu bun, gimana Tia dan Tio susunya masih ada gak bun?"

"masih ada mas, cepat pulang ya mas kasian anak-anak nanyain mas terus. Barusan juga ada kak Desi dia menyuruh kita untuk bercerai tapi aku gak bisa ninggalin kamu mas"

"maafin mas ya bun, mas selingkuh untuk mendapatkan harta selingkuhannya mas saja dan hasilnya mas kasih ke kamu bun, mas pengen membahagiakan kamu dan anak-anak"

"iya mas aku tau tapi caranya salah, jadi aja keluargaku marah besar sama mas, mas ada dimana sich?"

"yang jelas sekarang mas sudah bekerja bun tidak serabutan lagi, mas sangat merasa bersalah sama kamu dan anak-anak. Kalau kamu sudah benci dengan mas, mas cuma bisa pasrah dengan keputusan kamu bun"

"aku mau maafin kamu mas tapi kamu janji jangan mengulangi lagi ya"

"iya mas janji sayang, mas sekarang cuma ingin fokus bekerja demi keluarga kecil kita, ya sudah mas tutup telponnya ya bun"

"iya mas hati-hati disana ya"

2 minggu kemudian kak Desi datang lagi ke kontrakan Sinta

"Sin, sudahlah kalau mikir jangan kelamaan semua keluarga sudah tau termasuk ibu dan bapak pokoknya kamu harus bercerai dari Riki"

"kak, bisa tidak sich jangan membahas itu terus, Sinta sudah maafin mas Riki dan mas Riki juga berjanji gak akan selingkuh lagi"

"alaaahhh laki-laki itu kalau sekali selingkuh pasti kesananya bakalan selingkuh terus, kenapa sich kamu ngebelain Riki terus?"

"mas Riki itu selingkuh karena terpaksa kak"

"muak aku dengar nama suamimu itu"

"kakak sudah cukup, mas Riki selingkuh itu buat menghidupi istri dan anak-anaknya, itu kan gara-gara kak Fahmi juga suami kak Desi itu yang bikin mas Riki dikeluarkan dari pekerjaannya di perkebunan, buat apa sich sirik sama adik ipar sendiri?"

"heh Sin, jangan bawa-bawa suami kakak ya"

"biarin orang kak Fahmi yang memfitnah mas Riki korupsi padahal yang korupsi siapa bukannya sebaliknya?"

"diaaaammm kamu Sinta, ya sudah kalau kamu tetap ingin bersama dengan Riki cepat pergi dari sini! karena keluarga kita sudah tidak suka dengan kebodohan kamu"

"oke aku dan anak-anak akan pindah dari kampung ini dan tinggal kembali bersama mas Riki"

Sinta pun mengabari suaminya, Riki pun sangat terharu dengan istrinya yang dulu pernah ia sakiti. Kini mereka sekeluarga hanya tinggal didalam mess karyawan

"bun, makasih atas kesetiannya, mas kagum sama bunda"

"setidaknya aku bisa dekat dengan mas itu cukup melegakan, lihat Tia dan Tio sangat senang bisa bertemu dengan ayahnya"

"maaf sekarang mas belum bisa ngebahagiain bunda tapi suatu saat mas berjanji bakalan ngebahagiain bunda dan anak-anak"

Air mata Sinta menetes dikedua pipinya, lalu Riki pun mengusap air mata istrinya dengan kedua tangannya. Dan Riki pun berbisik ke telinga istrinya

"gimana kalau kita naik perahu sama anak-anak bun tapi ditempat wisata ya?"

"memang disini ada ya mas?"

"ada dong tapi harus pake tiket masuk, bukannya bunda suka naik perahu di danau?"

"iyaa mas suka sekali, kapan kita kesana?"

"besok aja ya bun kalau sekarang mas masih rindu sama bunda dan anak-anak"

Sinta terlihat tersenyum kembali setelah beberapa minggu ini wajahnya terlihat suram..




Cerita ini bisa dibaca di : [CERPEN] PERAHU RINDU