MENGHARAP PELANGI SETELAH KELAM.

Saat setiap wajah menengadah setelah langit kebasahan. Yang mereka katakan, pelangilah indah setelah kelam hujan berjatuhan.

Namun, jika telah kau selisik langit. Telah kau sapukan awan berbukit-bukit, yang ada hanya hujan bertambah dingin menghujam kulit.

Jangan katakan, TUHAN tak adil. Seolah hanya kau yang sakit.

Rasakan belai rintik hujan, bandingkan dengan kaktus yang kegersangan. Hanya fatamorgana, oasis yang jadi impian.

Memang adanya pelangi tak selalu datang seusai hujan, melengkung di biru langit kejauhan.

Kelam memang, langit mual yang memuntahkan air perasan awan. Namun bukankah di sana ada rahmat TUHAN.

Banyak keindahan lain yang mungkin tersimpan, lebih dari mejikuhibiniu yang melengkung di awan.

Cerita ini bisa dibaca di : MENGHARAP PELANGI SETELAH KELAM.