Hujan senja

Keindahan hanya fatamorgana

kumenatap kosong tebaran debu

antara badai dan terik mentari

peluh pun barakan tubuh

mengalir sebegitu percuma

kemana mencari dan berbaring?

di gersang tanah berdebu tajam

atau antara deruan kilat tetesan hujan?

Meski waktu bergulir,

aku masih bisu

Sempat kubisikan lelah pada mendung,

kutitipkan marah pada hujan,

sirnakan bimbang pada cakrawala

namun, langkahku kian gersang

Senja, tenggelamkanlah ceritaku hari ini

antara sisa waktu yang menyengal

Tak ada mentari untuk kupijarkan,

tak ada bulan untuk kusinarkan

Bintang menyepi dan hampir lenyap

Kala hujan mulai guyur diri

yang membara dendam 

dari resah sendiri

Dan aku mulai bersujud dalam sublim-Mu

Kusadar betapa sadarnya diriku

hingga ku mulai menangis sendu,

begitu pilu.

Tiada yang mampu hentikan tangisku

walau petir mulai menggelegar

Aku masih menangis dan terus menangis

hingga petir mulai serak

dan iringi tangisku

dengan belaian lembutnya

laksana kelembutan lentik jari sang bunda,

basuh air mataku

Kupasrahkan diri

kuikrarkan ketulusan angkara

kuucap doa, pejamkan mata

kucaci diriku sendiri

"ini salahmu sendiri, sobat..."


Pict : Pinterest.com

Cerita ini bisa dibaca di : Hujan senja