Ketika WARNA Menjadi Masalah.

Hari ini anak-anak mewarnai bawang putih. Zea mengambil crayon warna biru, lalu merah, kuning untuk mewarnai bawangnya. Aku di sampingnya meliriknya saja.

“Bu guru bagus nggak ?” tanyanya padaku. “Bagus..,” jawabku Ternyata tak cuma Zea, hampir semua anak mewarnai bawangnya tidak dengan putih. Kuning, merah, hijau, bahkan pelangi. Aku mendiamkannya saja. Beberapa menit sebelumnya sebelum sesi mewarnai ini dimulai, aku membawa sepiring bawang putih untuk ditunjukkan pada anak-anak.

Setelah kupajang karya anak-anak ributlah para orang tua.

“Kok bawang warnanya biru sih….Zea, gimana sih,” protes mamanya. “ Bu Nita Zea nih bawangnya kok biru gitu,”tanya mamanya kepadaku. Tak cuma mama Zea, mama-mama yang lain juga ribut.

“Nanti di rumah , tunjukkan saja bawang di dapur pada anak-anak. Setelah itu biarkan saja anak mewarnai bawangnya sekehendak hati mereka. Biarkan mereka berimajinasi, bu,”jawabku. Tapi mama-mama tampak tidak puas dengan jawabanku.

Aku pulang dengan santai. Tak kutanggapi dengan serius protes mama-mama. Sebab waktu kecil pun aku seperti muridku. Sapiku merah, langitku kuning, pohonku ungu. Hanya saja waktu itu aku punya guru yang ‘keras, ‘ menegurku. Sapi ya coklat atau putih, langit itu biru, pohon ya hijau. Maka dengan rasa takut kuubah warna sesuai kehendak beliau.

Hampir tiba di rumah, aku bertemu dengan anak tetangga yang sudah remaja.

“Mau kemana ?”kulihat dia mau naik motor.

“Nukarkan baju,” jawabnya.

“Kekecilan tanyaku ?”

“Nggak, kata mama warnanya nggak cocok sama aku. Kulitku hitam kok pakai baju kuning,”katanya. Ehmmm….aku manggut-manggut.”Hati-hati, cepat pulang,”kataku melihat langit agak mendung.

“Masih mau mampir Te, ke toko kosmetik.”

“Mau beli apa ?”

“Krim pemutih, biar kulitnya agak putih dikit nggak kayak negro,” katanya sambil tertawa. Kulit tetangga ku ini memang hitam manis.

Negro,…batinku. Negro kan kaum kulit hitam di belahan dunia Amerika sana. Yang dulu bahkan mungkin sampai saat ini menjadi korban rasisme dan diskriminasi. Sama-sama tinggal di Amerika, namun mendapat perlakuan intimidasi karena warna kulit mereka yang hitam. Warga kulit putih Amerika, meski tak semua, menganggap mereka yang berkulit putih lebih tinggi kedudukannya dari yang berkulit hitam. Martin Luter King Jr,  pejuang kulit hitam, menyebutnya sebagai paham Supremasi putih, yaitu ideologi yang menyatakan bahwa ras kulit putih lebih superior dari ras lainnya.

Kerasnya rasisme di Amerika ini di masa lalu membuat banyak film tentang rasisme bermunculan. Salah satunya adalah To Kill the Mockingbird, film dengan latar belakang tahun 30-an. Berkisah tentang perjuangan seorang pengacara kulit putih yang membela seorang kulit hitam yang dituduh memerkosa.

Ada lagi film The Help. Film yang berkisah tentang kehidupan orang kulit hitam dan kulit putih di daerah Jackson Missisipi Amerika Serikat. Di mana pada tahun 60-an semua pembantu rumah tangga adalah mereka yang berkulit hitam. Mereka harus mengurus rumah tangga dan anak-anak kulit putih. Yang mengharukan adalah para keturunan Afro-Amerika ini mengurus dan membesarkan anak kulit putih ini dengan setulus hati. Diceritakan tentang seorang pembantu yang dipecat gara-gara memakai toilet yang sama dengan majikannya. Seorang Jurnalis wanita kulit putih tergugah untuk menulis sebuah buku yang berkisah tentang perbudakan kaum kulit hitam. Bukunya ini kemudian menjadi best Seller. Dan ia pun berkat wawancaranya, memiliki banyak teman dari kalangan kulit hitam.

Kini rasisme dan diskriminasi sudah jauh berkurang, namun bukan berarti tidak ada. Apakah rasisme yang berujung pada pelanggaran HAM hanya ada di Amerika saja. Tidak, hampir di semua negara rasisme ini ada. Bahkan di Asia, bahkan di Indonesia.

Diskriminasi karena perbedaan warna kulit, terjadi juga di Cina. Warga asing di Cina yang memiliki warna kulit gelap dianggap mencurigakan dan kurang mendapat tempat di Cina karena dikaitkan dengan sifat-sifat mereka yang kurang menguntungkan, sedangkan orang asing berkulit putih masih diterima di Negara tersebut.

Korea Selatan juga memiliki masalah dalam diskriminasi dan rasisme. Kebanggaan yang tinggi akan budaya homgen di Korsel menjadi salah satu pemicu munculnya rasisme kepada etnis lain yang masuk ke negara itu sebagai pekerja atau karena menikah dengan laki-laki atau perempuan Korea Selatan. Survey yang dilakukan Seoul Institute pada tahun 2015 mengungkapkan bahwa diskriminasi warga asing dilakukan berdasarkan kebangsaan, penampilan dan pendidikan. Sekitar 94.5 persen dari 2500 orang asing menjawab bahwa mereka telah mengalami diskriminasi di Seoul.

Di Indonesia, meski sayup-sayup masih saja terdengar istilah pribumi dan non pribumi.

Wah, kok jadi ngelantur ya. Lalu apa hubungannya dengan bawang warna-warni tadi. Apakah sikap sebagian orang tua yang suka mendokrin anaknya bahwa warna bawang harus putih, daun harus hijau, laut harus biru ada pengaruhnya. Doktrin ini terbawa hingga ke bawah sadar anak. Sehingga ketika mereka besar mereka akan berpikir bahwa temanku harus yang berkulit sawo matang saja, bukan yang lain. Apakah begitu ya…

Wuih entahlah. Cukup dulu berpikirnya… aku sudah sampai di depan rumah.


https://www.goodreads.com/book/show/2657.To_Kill_a_Mockingbird

Gambar : galeri pribadi

                      hasil modifikasi

 

sumber :https://tirto.id/diskriminasi-dan-rasisme-di-asia-timur-cmbm


Ketika WARNA Menjadi Masalah.

Cerita ini bisa dibaca di : Ketika WARNA Menjadi Masalah.