Tuhan Vs tuhan

Hampir tidak ada perbedaan dari judul tersebut, Tuhan vs tuhan. Mana yang lebih kuat? Mana yang lebih berkuasa? Tuhankan? Atau tuhan? Apa bedanya Tuhan dengan tuhan? Bukankan penyebutannya sama? Bunyinya pun sama pula.

Jika dirunut kembali, pertanyaan tersebut, memang tidak ada bedanya. Siapa yang kuat, siapa yang berkuasa, apa perbedaannya. Bukankah kata-kata Tuhan dan tuhan memiliki eksistensi yang sama? Kekuasaan! Kekuatan!

Ya, memang benar adanya dua kata tersebut memiliki eksistensi yang sama. Hanya saja perbedaannya, di manakah eksistensi ke-Tuhanan dan ke-tuhanan itu berada?

Awalnya kata ‘Tuhan ‘ dan ‘tuhan’ muncul ketika saya menempuh pendidkkan di sebuah perguruna tinggi. Kala itu dosen saya yang masuk pada hari pertama di semester ketiga kuliah, langsung memberikan pertanyaan mengenai kata Tuhan vs tuhan. Kemudian menantang kami untuk menjawab pertanyaan eksistensi Tuhan dan tuhan dengan menggunakan bahasa kami sendiri. Saya dan teman sekelas yang hampir berjumlah 40 orang tidak dapat menyebutkan perbedaan kata Tuhan dan tuhan yang dituliskan oleh dosen saya tersebut. Kami kehilangan kata atau memang kala itu tidak bisa membaca kata ‘Tuhan’ dan ‘tuhan’ secara benar.

Sekilas, sebenarnya kata Tuhan dan tuhan tidak ada perbedaan sama sekali, dari segi pengucapan bahkan dari segi jumlah hurufnya. Tetapi, cobalah perhatikan dengan seksama huruf awal dari kedua kata tersebut yaitu awalan ‘T’ yang ditulis dengan huruf kapital dan ‘t’ kecil pada kata ‘tuhan’.

Mengapa kata Tuhan vs tuhan seperti memiliki saingan atau perlawanan atau bermusuhan atau tandingan. Tuhan dengan tuhan pula! Lalu Tuhan melawan tuhan yang mana? Apa yang akan dilawan, disaingi atau dimusuhi, sementara Tuhan berhadapan dengan tuhan?

Dosen saya mengatakan bahwa kedua kata itu memiliki perbedaan yang sangat jauh. Bahkan tidak bisa disamaratakan! Wah! Bagaimana bisa?

Sejatinya, kata Tuhan yang menggunakan huruf kapital ‘T’ merujuk pada Tuhan yang sebenarnya, Yang Agung, Kuat, atau Segala Maha. Tuhan memimpin kendali apapun termasuk pada alam, dunia bahkan semesta jagad raya. Tak ada yang bisa menandinginya dengan kekuatan super sekalipun. Dia dapat membolak-balikan apapun, dari manapun, kapan pun. Eksistensi Tuhan sebagai Tuhan telah melebur menjadi satu di dunia untuk segala yang diciptaNya. Namun, Tuhan tak pernah menagih untuk dieksistensikan, Ia mengeksistensi sendiri, tanpa perlu diminta sekalipun. Ia akan Mengagung sendiri tanpa diagungkan. Ia akan Mengasihi sendiri tanpa dikasihi. Ya, eksistensi Tuhan tak ada ujungnya. Dia tetaplah Dia tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa.

Berbeda dengan kata tuhan yang hanya menggunakan huruf kecil ‘t’. Menurut dosen saya, tuhan yang ‘kecil’ ini hanyalah umpama saja. Umpama untuk apa? Untuk Siapa? Ya, kata tuhan di sini merujuk pada setiap manusia yang menuhankan ‘tuhan’ sebagai tuhan. Manusia yang beralih dari mengagungkan Tuhan menjadi mengagungkan tuhan. Manusia yang awalnya mengejar ridho Tuhan menjadi berlari pada tuhan. Manusia berubah menjadi makhluk yang menakutkan karena tidak lagi menganggap Tuhan sebagai Tuhan. Sebab, tuhan telah menjelama dalam diri mereka layaknya mereka mengejar Tuhan sebenarnya.

Manusia jadi mengagung-agungkan harta, kekayaan, tahta bahkan pangkat yang dianalogikan sebagai bentuk tuhan. Manusia mengejar-ngejar tuhan dengan segenap hati. Namun, melupakan harga diri. Manusia menelantarkan yang tak berdaya sebab tuhan sudah menguasai hatinya pada ke-ada-annya (kaya). Menginjak-nginjak orang lain demi ‘tuhan’ yang akan mengganjarnya dengan segala mau. Manusia yang mengangap tuhan ada karena Tuhan sudah tak diakui sebagai Maha Kaya dan Maha Kasih. Sebab tuhan telah bereksisitensi dalam nafsu manusia yang serakah. Tak peduli bahwa ia telah menginjak-nginjak Tuhan yang esksistensinya melampaui segala alam semasta dan jagad raya.

Tuhan yang diTuhankan

vs

tuhan yang dituhankan

gambar: muslim.or.id


Cerita ini bisa dibaca di : Tuhan Vs tuhan