Kebenaran dari Banyak Anak, Banyak Rezeki

Cermati kisah di bawah ini: 

Di suatu desa, tinggallah sebuah keluarga. Keluarga ini dari luar terlihat bahagia dengan anak-anak yang dimilikinya. Sang istri seorang ibu rumah tangga. Sedangkan Sang suami bekerja sebagai buruh pabrik. Mereka memiliki 6 anak. Anak pertama berusia 12 tahun, anak kedua berusia 10 tahun, anak ketiga 8 tahun, anak keempat berusia 6 tahun, anak kelima berusia 4 tahun, anak terakhir 2 bulan.

Pada pagi hari, Sang suami tengah bersiap-siap untuk bekerja. Dia sekarang tengah mandi. Sang istri sibuk memasak di dapur sendirian. Anak terakhir ada di gendongannya. Diajak ke sana ke mari mengikuti langkah ibu-nya yang tengah memasak.

“Ibu, aku lapar. Kapan sarapannya siap?” tanya anak kelima.

“Iya, sebentar lagi. Kamu main di depan sana dulu ya.”

Anak kelima menurut. Dia pergi ke teras rumah untuk bermain dengan mainannya.

“Ibu, tolong kancingkan bajuku,” rengek anak keempat.

“Ibu sedang memasak. Kamu pasang sendiri ya. Kan Ibu sudah mengajarimu.”

“Iya, Bu.”

“Ibu, di mana topi sekolahku?” teriak anak ketiga.

“Bagaimana Ibu bisa tahu? Kamu menaruhnya di mana?”

“Ya di kamar, Bu. Tapi enggak ada. Nanti aku dihukum kalau upacara enggak pakai topi.”

“Coba cari lagi yang teliti.”

“Iya, Bu.”

“Ibu, seragam sekolahku robek. Bagaimana, Bu?” tanya anak pertama.

“Kamu jahit sendiri ya. Ibu sedang sibuk memasak.”

“Aku kan enggak bisa menjahit.”

Sang istri melihat Sang suami selesai mandi. “Yah, tolong kamu jahitkan baju seragam anak kita.”

“Kenapa aku? Aku mau berangkat ke pabrik. Kamu pakai seragam yang lainnya saja.”

“Yah, aku kan hanya punya satu seragam.”

“Kamu tutupi pakai sapu tangan atau yang lainnya. Jangan ganggu Ayah.”

“Baik, Yah.”

Beberapa saat kemudian, keheningan terjadi. Lalu terdengar teriakan dari anak kedua.

“Ayah, Ibu, adik hilang. Dia kan tadi main di teras.”

“APA?!!” teriak Sang suami dan Sang istri.

Dari kisah di atas, apa pesan yang dapat kalian tangkap? Mari kita ulas lebih lengkap.

Ada sebuah dalil yang berbunyi. “Banyak anak, banyak rezeki. Rezeki anak dijamin oleh Allah Swt. Janganlah kau membunuh anak-anakmu karena takut kalaparan.”

Dalil ini memang benar, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Dalil ini ada prasyaratnya, ada sunnatullah-nya, dan ada hukum alamnya. Kita tidak boleh memakan mentah-mentah dalil tersebut. Tidak mungkin kan, begitu anak kita lahir tiba-tiba malaikat mengirimi kita pampers, susu, bubur bayi, jamu lahiran, dan yang lainnya. Lalu umur sekian tahun, malaikat datang lagi membawa anak-anak ke sekolah PAUD, seragam, buku-buku, sampai selesai kuliah. Salah kaprah jika kita memaknai hakikat rezeki anak dijamin oleh Allah Swt. Kalau prasyaratnya tidak terpenuhi, tidak akan terjadi.

Ditegaskan untuk para suami, sekadar membuat anak itu mudah. Tapi prasyaratnya juga harus diperhatikan. Harus dipikirkan masa depan anak. Anak tetap butuh makan. Selain itu, anak-anak butuh jaminan kesehatan, sekolah, kasih sayang, kesempatan bermain di usianya, bergaul, dan yang lainnya. Semua rezeki itu harus dipenuhi oleh orang tua kepada anak-anaknya.

Bagi para suami, agar hal tersebut tidak terjadi, mulai sekarang marilah menatap alat kelamin. Menata alat kelamin ya bukan berarti digunakan, tapi lebih penting lagi dikendalikan produksi anaknya. Tidak susah kok mengendalikannya karena di jaman secanggih sekarang, hal itu mudah dilakukan. Buang rasa malas dan gengsi untuk ke puskesmas atau klinik untuk konsultasi.

Satu hal lagi, menata alat kelamin itu juga harus dimulai dari menatap mindset (cara berpikir). Eitttss... mindset bukan hanya soal otak saja, tapi juga soal alat kelamin. Kalau alat kelamin dibekali mindset bahwa Allah Swt tidak pernah menurunkan susu dan pampers di atas sajadahmu, sebab urusan susu dan pampers sangat tidak penting untuk diurus oleh-Nya, pastilah anak-anak tidak akan terurus. Jika mindset alat kelamin diberi pengertian bahwa hidup ini perlu bekerja dalam hukum sunnnatullah, termasuk urusan susu dan pampers itu, maka ia akan lebih alim. Jadi, sangat penting menata mindset alat kelamin.

Masih ingin banyak anak, banyak rezeki?

Referensi:

Iyubenu, Edi AH. 2015. Berhala-Berhala Wacana: Gagasan Kontekstualisasi Sakralitas Agama secara Produktif-Kreatif. Yogyakarta: IRCiSoD


Cerita ini bisa dibaca di : Kebenaran dari Banyak Anak, Banyak Rezeki