KUPU-KUPU (KuliahPulang-KuliahPulang)

Menempuh pendidikan pasti mengharapkan ijazahnya. Mustahilun kalau anda-anda bilang ingin ilmunya saja. Mulai dari SD anda sudah bersaing dengan murid-murid polos lainnya untuk mengisi otak dengan pengetahuan yang nantinya dinilai dan dituangkan dalam ijazah masing-masing. Ada yang waktu Sekolah Dasar nya sudah pintar dan mahir baca tulis serta berhitung yang di kemudian harinya menjadi murid kesayangan wali kelas dan diikut sertakan dalam berbagai lomba. Ada juga yang waktu Sekolah Dasar nya biasa-biasa saja. Ndak  pinter dan malah jadi orang sukses di masa depan. Tapi apa benar dimulai dari Sekolah Dasar semua sifat dan sikap perilaku sewaktu menjadi mahasiswa bisa terlihat?

Kalau anda sudah menjadi mahasiswa, pasti anda tau istilah Kupu-kupu. Seperti itu julukan yang diberikan teman-teman kepada saya sewaktu menjadi mahasiswa baru.

"Mia... ikut organisasi XXX yuk." Celetuk salah seorang teman

"Ehh jangan ajak Mia. Dia itu kupu-kupu. Kuliah-pulang. Kuliah-pulang." Sahut yang lainnya

Tidak peduli berbagai ocehan yang mengalir deras dari mulut-mulut teman sekelas, saya ya ngeloyor saja pulang.  Bagi saya, kupu-kupu itu cantik. Jadi kalau mereka menyebut saya kupu-kupu, berarti saya cantik. Iya tho? Asal jangan disebut kupu-kupu malam saja.Hehe... 

Sebenarnya ada banyak faktor yang membuat mahasiswa baru sampai mahasiswa bangkotan bisa dengan senang hati kuliah dan langsung pulang. Berikut ini faktor-faktor yang mendasari diri saya sendiri mengapa saya pantas disebut kupu-kupu dulunya (mungkin masih sampai sekarang) :

1. Banyak Kegiatan di Luar Kampus

Sebelum memasuki dunia perkuliahan, saya merupakan orang  yang punya banyak "job". Misalnya berlatih syarhil qur'an, menulis berbagai artikel dan cerita yang membutuhkan ketenangan dan konsentrasi tinggi, mengikuti berbagai kompetisi yang sesuai dengan hobi, dan sebagainya. Alhasil, saya harus kejar tayang dengan jam perkuliahan yang sebelumnya saya pikir hanya sebentar tapi justru menyita banyak waktu dan menyebabkan saya harus kerja ekstra untuk mengikuti semua kegiatan rutin itu. So, daripada saya menghabiskan waktu di kampus lebih baik saya langsung capcus pulang begitu mata kuliah telah selesai.

2. Merasa Kurang Nyaman di Lingkungan Kelas

Kalau anda termasuk orang yang aktif di komunitas-komunitas tertentu yang bersifat non akademis, misalnya komunitas pecinta hewan. Anda pasti akan sering atau paling tidak berkumpul dengan teman-teman satu komunitas yang anda rasa lebih memberi kenyamanan dan keleluasaan saat mengobrol. Apalagi kalau anda bukan termasuk orang yang bisa dengan mudah akrab dengan orang lain, ini menjadi faktor terbesar menjadi kupu-kupu. Nah, ini juga yang saya rasakan ketika menjadi mahasiswa baru dan menyandang predikat kupu-kupu. Saya sangat tidak nyaman berkumpul dengan mereka-mereka yang baru saya kenal di kelas. Mungkin karena suasana kelas yang kurang hangat dan tidak mencerminkan keramahan, ditambah lagi saya yang sebatang kara tidak punya teman yang berasal dari satu sekolah yang sama membuat saya sukses menjadi kupu-kupu.

3. Belum Bisa Beradaptasi dengan Orang-orang Baru

Ini murni kesalahan individunya sendiri. Salah sendiri tidak bisa beradaptasi. Salah sendiri tidak bisa menjadi orang yang ramah. Salah sendiri punya muka yang kalem. Fase-fase awal alias pengenalan sesama sangat penting untuk menjamin betah atau tidaknya seseorang bersama dengan kita. Coba saja kalau tidak percaya. Mana mungkin dia bisa jatuh cinta sama kamu kalau dia tidak nyaman. Iya  kan? Yang perlu diketahui adalah sebuah sampul tidak benar-benar menunjukkan isi dari apa yang ada di balik sampul itu. Orang yang terlihat pendiam justru menjadi yang paling cerewet ketika anda mengenalnya dengan baik. Orang yang terlihat kalem justru jadi yang paling urakan ketika anda sudah menjadi teman dekatnya. Masalahnya, orang-orang seperti ini biasanya adalah orang-orang yang susah beradaptasi sendiri. Mereka harus "dibantu" agar bisa menyesuaikan diri dengan cepat atau paling tidak mereka akan menyesuaikan diri dalam waktu yang cukup lama. Makanya jangan heran kalau melihat mahasiswa yang hanya diam ketika didekati tanpa mau bicara sebelum diajak berbicara adalah mahasiswa yang berpredikat kupu-kupu.


4. Tidak Punya Shohib

Mana mungkin bisa betah berada di suatu tempat tanpa ada seseorang yang bisa diajak guyonan atau mengobrol kesana kemari. Shohib alias teman akrab ini berperan besar dalam membentuk mood seseorang. Coba saja anda pergi jalan-jalan tanpa ditemani oleh sahabat yang biasanya selalu anda ajak bersenang-senang. Pasti rasanya ingin pulang saja daripada tersiksa lama-lama tanpa teman bicara untuk berkeluh kesah dan bergosip ria.


5. Kurang Tertarik dengan Kegiatan Kampus

Kalau yang satu ini biasanya dialami oleh mahasiswa "nyasar". Kuliah di jurusan yang tidak sesuai harapan atau malah di jurusan yang tidak ia sukai. Segala hal kegiatan yang diadakan pasti dianggap tidak penting sehingga ia tidak punya minat terhadap kegiatan itu. Berbanding terbalik dengan mahasiswa yang memang kuliah di jurusan yang dia cinta dan mahasiswa yang suka mengorek hal-hal baru. Menurut mereka bagaimanapun tantangannya dan apapun kegiatannya akan diikuti karena tidak ada gunanya menjadi seorang mahasiswa yang kupu-kupu.


Yah sebenarnya sejauh ini cuma itu yang membuat saya menjadi kupu-kupu. Apa sekarang masih? Untungnya sekarang tidak menjadi kupu-kupu lagi secara penuh. Loh(?) Hehe... kadang-kadang jika saya berminat ikut atau dipaksa ikut maka saya akan ikut. Tapi kalau tidak tertarik saya akan mencari kegiatan lain yang lebih sesuai dengan minat dan bakat. Yang penting harus isi waktu dan isi kepala dengan hal-hal yang berguna. Menulis di Pluk Me, misalnya.

Cerita ini bisa dibaca di : KUPU-KUPU (KuliahPulang-KuliahPulang)